Kutinggalkan jejak ini…sahabat maaf yach.

Posted: 26 Januari 2010 in Semak-semak Kehidupan

Sebulan lebih tak bersua membuat hati ini kering, ingin rasanya tuk tetap bersama tapi apa daya karena waktulah yang memisahkan kita. Untuk mengawali dan ucapan maaf saya karena sudah meninggalkan jejak-jejak luka pada sahabatku, aku persembahkan artikel ini;

Untukmu sahabat…

Inpirasiku…

SANDAL JEPIT KESEDERHANAAN

Mungkin ada pesona tertentu yang menghubungkan  rohani  para

penyair.  Setahu  saya,  ada dua penyair yang terpesona pada

kesederhanaan. Yang satu Taufiq Ismail. Yang satu lagi  Emha

Ainun Nadjib.

Bulan  Juni,  1979,  ketika  Ki Mohamad Said Reksohadiprodjo

meninggal dunia, Taufiq terharu. Ia  merasa  kehilangan.  Ia

lalu  menulis sajak, buat mengenang orang tua sederhana tapi

memancarkan kewibawaan itu.

Yang paling pertama ia ingat tentang  orang  tua  itu  ialah

sandal   jepitnya,  yang  selalu  berbunyi  soh,  soh,  soh,

menggosok debu Jakarta, menggosok debu Indonesia.

Di rumahnya, Taufiq mencari sepatu lari,  yang  ia  beli  di

negara  dunia  kesatu.  Harganya, tentu saja, mahal. Dan itu

membuat Taufiq malu mengenang kesederhanaan Ki Mohamad Said.

Penyair ini silau melihat kehidupan orang tua itu.

Ketika  Mohamad  Kasim  Arifin, mahasiswa IPB yang selama 15

tahun “menghilang” di Waimital, P.  Seram,  kembali  ke  IPB

dengan  kisah  suksesnya  membantu  petani  transmigran yang

miskin, Taufiq juga terharu. Kasim, sahabatnya  itu,  meraih

keberhasilan  dengan swadaya, tanpa sepeser pun bantuan dana

dari pemerintah.

Begitu melihat dirinya sendiri, seorang  dokter  hewan  yang

hanya  bersyair-syair  saja  kerjanya  (begitulah  diakuinya

dalam sajaknya untuk mengenang  Mohamad  Kasim  Arifin),  ia

merasa  perlu  menyembunyikan  wajahnya  menyembul  di  kali

Ciliwung itu. Kasim yang hidupnya tak  gemerlapan  itu  pun,

seperti  halnya  Ki  Mohamad  Said,  membuatnya merasa malu,

risi, dan bersalah.

Getaran apakah yang  membuat  kita  bisa  merasa  risau  dan

terpojok  tak  berdaya  seperti  itu?  Mungkin  cuma  Taufiq

sendiri yang tahu jawaban persisnya.

Tapi, saya kira Taufiq mengharapkan agar  kita  punya  lebih

banyak  lagi tokoh seperti Ki Mohamad Said dan Kasim Arifin.

Ia, dengan kata lain, tak  ingin  melihat  Ki  Mohamad  Said

berangkat meninggalkan kita.

Kematian memang sering bisa memberikan kenangan seperti itu.

Dan, celakanya, kita seperti baru sadar, bahwa orang seperti

itu penting dan kita perlukan.

Dalam  “Sajak-sajak Sederhana”-nya, nampak bagaimana penyair

Emha Ainun Nadjib gandrung pada kesederhanaan itu.

“Tuhanku” katanya.

“Ambillah aku sewaktu-waktu.

Kematianku kehendak sederhana saja.

Orang-orang  menguburku  hendaknya  juga  dengan   sederhana

saja.”

Barangkali,  ini pesan Emha. Tapi barangkali juga salah satu

cermin dari pergulatan  batinnya  sebagai  seorang  seniman.

Seperti   Taufiq   Ismail,   Emha  Ainun  Nadjib  juga  kuat

memperlihatkan   pada   kita   pemihakannya    pada    nilai

kesederhanaan.

Ketika   Soedjatmoko  meninggal  dunia,  Emha  juga  menulis

kenangan. Ada sesuatu yang ia kagumi pada  diri  intelektual

beken   itu.   Oleh   karena  itu,  tak  segan  ia  menyebut

Soedjatmoko sebagai ulama.  Benar,  kata  Arab  itu  artinya

memang persis mencerminkan kehidupan Soedjatmoko: orang yang

banyak ilmu. Tapi pemberian gelar ulama itu  jelas  memiliki

konotasi lebih: bahwa almarhum bukan cuma berilmu tapi juga,

dan ini yang lebih penting, mampu  memberikan  teladan  laku

bagi siapa saja.

Goenawan  Mohamad  bahkan  menyebut  Soedjatmoko  bukan cuma

teladan  ilmu,   melainkan   juga   teladan   “laku”.   Bagi

Soedjatmoko,  apa yang dikatakan dan yang ditulis tidak cuma

cermin ketangkasan  berolah  pikir,  melainkan  juga  cermin

pergulatan batinnya.

Orang  bilang,  keteladanan  adalah sesuatu yang hilang dari

kita. Kita tak lagi punya sesuatu yang kita  banggakan.  Tak

ada lagi sosok pribadi yang layak kita jadikan teladan.

Tampil secara sederhana saja misalnya, juga sesuatu yang tak

mudah. Imbauan untuk menyederhanakan  hidup  sebetulnya  pas

buat  kita.  Ia  bukan  cuma  problem  bagi  orang kaya yang

cenderung hidup gemerlapan. Orang miskin pun,  entah  berkat

rangsangan virus apa, banyak yang tak mau tampil apa adanya.

Mereka tidak gemerlap,  mungkin  juga  memperlihatkan  sikap

anti  pada gaya hidup itu, barangkali hanya karena belum ada

kesempatan.

Benar kekaguman Taufiq pada Ki Mohamad  Said,  karena  orang

itu  telah  membuktikan  dalam hidupnya. Ia bukan cuma orang

sederhana, melainkan mungkin kesederhanaan itu sendiri.

—————

Mohammad Sobary, Jawa Pos 12 Januari 1992

Iklan
Komentar
  1. haris ahmad berkata:

    banyak pelajaran yang bisa di ambil
    terima kasih kang ^^

  2. peri01 berkata:

    apa kabar
    sering2 berkunjung yah
    salam

  3. Assalamu’alaikum, bila kita tidak mampu, lebih baik hidup dalam kesederhanaan, karena kalau kita memaksakan diri untuk hidup dalam kemewahan akan menyusahkan diri kita sendiri. namun kalaupun kita mampu, sederhana, jauh lebih baik, karena kekayaan yg kita miliki, adalah titipan dan ujian dari Allah. (Dewi Yana)

  4. tary si kuman berkata:

    ini sebuah perenungan dan aku seperti mendapat energi baru.

  5. Dangstars berkata:

    Mari kita hidup sederhana namun tidak kikir 😛

  6. Dangstars berkata:

    Salam hangat dari Medan..
    Sukses selalu

  7. yangputri berkata:

    welkambek dek…

    btw picnya bagus banget tuh

  8. sauskecap berkata:

    waduh sandal jepitnya bagus tuh, punyaku ancur abis…

  9. isti berkata:

    kita rindu orang2 seperti mereka. yang tampil bersahaja dan mampu memberi inspirasi bagi orang lain

  10. melly berkata:

    sendal jepitnya bagus tuh

  11. iezul berkata:

    mmmm memang bener2 pelembut hati

  12. isil berkata:

    yups..suka dengan sendal jepitnya…
    mhm..orang2 hebat yang selalu bersikap sederhana..
    sangat menginspirasi..

  13. nia berkata:

    sederhana .. sungguh indah Indah ..

  14. gerhanacoklat berkata:

    aku sudah pindah mas ke sini
    aku selalu suka membaca postinganmu
    😀

  15. Fantastic post, I really like your style.

  16. didtav berkata:

    mampir ke blog saya ya pak ,meski sebentar meluangkan waktu

  17. kenuzi50 berkata:

    meninggalkan jejak tuk sahabat…

  18. Ruang Hati berkata:

    Penghujung bulan sudah datang, ada yg suka karena baru gajian, ada yang seding karena target tidak terpenuhi, apapun yang terjadi ruanghati.com ucapkan selamat berakhir pekan dan berakhir bulan, selamat ngeblog, yang barusan gajian bisa dihemat sampai akhir bulan berikutnya,

    salam hangat san sukses selalu

    semoga hidup Anda penuh dengan Cinta, Kesehatan, kebahagiaan dan Kedamaian selalu

    ruanghati.com

  19. Rindu berkata:

    kesederhanaan sebagian dari iman 🙂

  20. liza berkata:

    assalamualaikum sahabat
    apakabarmu?
    lama tak berkunjung
    kalo boleh berpendapat
    sandal jepitnya terlalu bagus kurang cocok dianalogikan dengan sendal jepit dan kesederhanaan

  21. darahbiroe berkata:

    berkunjung n ditunggu kunjungan baliknya makasih 🙂

  22. CU1S berkata:

    walau tak lama berjumpa seorang sahabat akan sllu menyimpan smua di hati. Dia akan slalu ‘mengkhawatirkanmu’ berharap kau kan baik2 saja, dan kan slalu mendoakan tuk kebaikan hidupmu.

  23. achoey berkata:

    indah
    penuh hikmah

    lama gak BW
    maaf y 🙂

  24. hanif berkata:

    Biarkan kesederhanaan itu menemukan maknanya dalam setiap jengkal langkah kita. Membuat kita nyaman karena dengannya kita merasakan bahagia.

  25. yangputri berkata:

    kemana ya orangnya..??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s