Mendiknas Minta Perguruan Tinggi Muhammadiyah Berkelas Dunia

Posted: 10 Desember 2009 in Rekonstruksi Pendidikan

Solo, Senin (29 Juni 2009) — Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo meminta agar perguruan tinggi di lingkungan Muhammadiyah (PTM) menjadi PT berkelas dunia. Mendiknas berharap, setidaknya PTM dapat masuk dalam jajaran 200 PT terbaik Asia.

“Saya betul – betul menginginkan UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta) dan PTM yang lain betul – betul segera ketularan untuk menjadi world class atau berkelas dunia dan itu bukan sesuatu hal yang mustahil.  UNS (Universitas Negeri Sebelas Maret), tetangga dekatnya, jumlah mahasiswanya hampir sama malah lebih besar UMS dan sekarang sudah masuk jajaran 200 besar terbaik Asia.Saya ingin melihat dari kalangan PTS ada yang pecah telur dan pecah telurnya saya berharap dari Muhammadiyah, ” kata Mendiknas pada Pelepasan Karya Siswa Dosen – Dosen Perguruan Tinggi Muhammadiyah ke Luar Negeri dan Peresmian Pesantren Mahasiswa Internasional KH Mas Mansur di Auditorium UMS, Solo, Jawa Tengah, Senin (29/06/2009) .

Sebanyak 34 mahasiswa dari lingkungan Muhammadiyah, 19 diantaranya dari UMS, mendapatkan beasiswa luar negeri ke sejumlah perguruan tinggi di negara – negara kawasan Eropa dan Australia. Beberapa PT lain yang mendapatkan beasiswa adalah dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Andalas, dan UNS.

Mendiknas menyebutkan, ada tiga kunci untuk menjadi PT berkelas dunia. Pertama, kata Mendiknas, adalah keberhasilan merekrut manusia terbaik baik dosen, mahasiswa, maupun karyawan. Menurut Mendiknas, dosen yang baik akan menyedot mahasiswa terbaik dan mahasiswa terbaik membuat dosen tertarik dan kerasan mengajar. “Bahkan sampai karyawannya pun dapatkan yang terbaik. Manusia bisa dibentuk, dibangun, dan dikembangkan menjadi terbaik tentunya melalui pendidikan,” katanya.

Kedua, lanjut Mendiknas, kemampuan PT menghimpun dana dengan sukses. Semakin cash flow-nya bagus, kata Mendiknas, tentu semakin mampu perguruan tinggi untuk melaksanakan peningkatan mutu. Ketiga, kata Mendiknas, adalah tata kelola yang baik. Menurut Mendiknas, dengan tata kelola yang baik maka manajemen bisa dilakukan secara profesional, efektif, dan efisien. “Kepemimpinan juga bisa dilaksankan dengan baik. Kebocoran – kebocoran juga minimal, sehingga sumber daya atau resources yang dimiliki itu betul – betul bisa dimanfaatkan untuk pelayanan pendidikan  yang terbaik,” katanya.

Mendiknas menyampaikan, sejak tahun 2005 pemerintah terus menerus mengalokasikan anggaran beasiswa bagi dosen untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang master (S2) dan doktor (S3) baik di dalam maupun di luar negeri. “Setiap tahunnya kita alokasikan 4.000 beasiswa untuk di dalam negeri dan 2.000 untuk ke luar negeri. Beasiswa ini dibuka untuk semua PT baik negeri maupun swasta,” katanya.

Beasiswa tersebut, kata Mendiknas, digunakan untuk mengejar portofolio dosen yang belum ideal. “Alokasi ini masih terlalu kecil, mestinya dua setengah kali lipat, tetapi karena keterbatasan anggaran maka belum bisa memberikan sebanyak itu,” katanya.

Mendiknas menyampaikan, Muhammadiyah berkiprah cukup besar dalam pendidikan guru. Mendiknas menyebutkan, sebanyak sepuluh PT berperan serta dalam pendidikan guru S1 dalam jabatan, 15 PT berperan serta dalam program sertifikasi guru dalam jabatan, dan tiga perguruan tinggi berperan dalam S1 PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) melalui pendidikan jarak jauh. Mendiknas menambahkan, ada 14 universitas mendapatkan bantuan laboratorium mikro teaching dan beasiswa sebanyak 87 orang S2 dan S3 di luar negeri.

Rektor UMS Bambang Setiaji menyebutkan, di UMS terdapat dosen S2 sebanyak 421, sedang mengikuti pendidikan S2 74 orang , S3 45 orang, sedang mengikuti pendidikan S3 58 orang.  Selain itu, terdapat sebanyak 12 guru besar, enam guru besar emiritus dan yang mendapatkan sertifikasi 140 orang. “Khusus yang sertifikasi agak memperlonggar karena sepertiga income mendapat subsidi dari pemerintah,” katanya.

Direktur Pesantren Mahasiswa Internasional KH Mas Mansur, Supriyono, mengatakan, pesantren mahasiswa telah beroperasi selama satu semester. Dia mengatakan, pesantren dengan kapasitas 300 orang ini digunakan untuk kegiatan multikultur dan multiras. Dia menjelaskan,  mahasiswa mendapatkan fasilitas untuk dapat berkolaborasi dengan komunitas luar negeri melalui internet. Selain itu, kata dia, ada native speaker yang mengajar selama 16 jam per minggu. “Mahasiswa yang tinggal sekarang adalah mahasiswa lokal dan dari Thailand,” katanya.

Supriyono mengatakan, di pesantren ini terdapat kelas untuk melakukan pembinaan akidah dan akhlak Islam. Mahasiswa yang tinggal di sini dari jurusan Teknik Mesin, Teknik Informatika, dan Psokologi. Dia menyebutkan, biaya sewa kamar sebanyak Rp.375 ribu per orang per bulan meliputi makan tiga kali, cuci, dan tempat tinggal.***


Sumber: Pers Depdiknas

Iklan
Komentar
  1. hera berkata:

    hmm…jd pngen nyari beasiswa jg,,,, 🙂

    sang pelembut hati;
    semua orang juga pengen, tergantung niatan dan kesungguhan kita,.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s