ehm…pelayan pelupa

Posted: 24 Oktober 2009 in Kisah Sufi

Pada zaman dahulu, ada seorang bijaksana dan baik hati, yang

memiliki  sebuah  rumah besar. Dalam perjalanan hidupnya, ia

sering pergi jauh beberapa waktu lamanya.  Kalau  ia  sedang

pergi,  rumah  itu  diserahkan  pemeliharaannya  kepada para

pelayan.

Salah satu  sifat  para pelayan  itu  adalah  pelupa. Sering

mereka  lupa,  mengapa  berada  dalam rumah itu; demikianlah

mereka  menjalankan  kewajibannya  dengan  mengulang-ngulang

yang  sudah  dikerjakan.  Tidak jarang pula mereka melakukan

pekerjaan dengan cara yang sama sekali berbeda  dengan  yang

telah  diberitahukan  kepada  mereka. Hal itu terjadi karena

mereka telah melupakan peran mereka di rumah itu.

Konon, ketika  pemilik  rumah  itu  sedang  bepergian  jauh,

muncullah  sekelompok pelayan, yang berpikir bahwa merekalah

yang memiliki  rumah  itu.  Karena  pengetahuan  mereka  itu

terbatas  pada  dunia sehari-hari saja, mereka merasa berada

dalam  keadaan  yang  bertentangan.  Misalnya  saja,  pernah

mereka  ingin  menjual  rumah, tetapi tidak bisa mendapatkan

pembeli, karena memang tidak bisa  mengurusnya.  Pada  waktu

yang  lain  orang-orang  datang bermaksud membeli rumah itu,

dan menanyakan tentang sertifikat tanah, tetapi karena  para

pelayan  itu  sama  sekali  tidak  tahu menahu tentang akta,

dianggapnya para calon pembeli itu main-main saja.

Keadaan yang bertentangan itu juga dibuktikan oleh kenyataan

bahwa  persediaan  untuk  rumah  senantiasa  muncul  “secara

rahasia,” dan perbekalan itu  tidak  cocok  dengan  anggapan

bahwa para penghuni bertanggung jawab untuk seluruh rumah.

Petunjuk-petunjuk    untuk    mengurus   rumah   itu   telah

ditinggalkan dalam kamar  si  empunya  rumah–dengan  maksud

agar  bisa diingat-ingat lagi. Tetapi setelah satu generasi,

kamar itu menjadi begitu keramat sehingga tak ada seorangpun

yang  diperbolehkan  memasukinya; dan kamar itu pun dianggap

sebagai  rahasia  yang  tak  tertembus.  Malahan,   beberapa

diantara pelayan itu beranggapan bahwa kamar itu sama sekali

tak ada, meskipun mereka melihat  pintunya.  Namun,  tentang

pintu  itu mereka memberikan penjelasan lain; sekedar hiasan

dinding belaka.

Begitulah  keadaan para pelayan  rumah  tersebut, yang tidak

mengambil  alih  rumah  itu,  tidak  pula tetap setia kepada

petunjuk semula.

Iklan
Komentar
  1. rudi berkata:

    ehm…kalo semua pelayan itu seperti itu maka semua majikan pada tidak mau mempekerjakanya.
    salam..

    sang pelembut hati
    iya juga…terimakasih sudah mampir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s