Belajar; Kisah Pasir

Posted: 23 Oktober 2009 in Kisah Sufi

Dari mata  airnya  yang  nun  jauh  di gunung sana, sebatang

sungai  mengalir  melewati  apapun  di  tebing  dan  ngarai,

akhirnya mencapai padang pasir. Selama ini ia telah berhasil

mengatasi halangan apapun dan sekarang berusaha  menaklukkan

halangan  yang  satu  ini.  Tetapi  setiap  kali  sungai itu

cepat-cepat melintasinya, airnya segera lenyap di pasir.

Sands of Time

Sungai itu  sangat  yakin,  bahwa  ia  ditakdirkan  melewati

padang  pasir  itu, namun ia tidak bisa mengatasi masalahnya

Lalu, terdengar suara tersembunyi yang berasal  dari  padang

pasir  itu, bisiknya, “Angin bisa menyeberangi pasir, Sungai

pun bisa.”

Sungai  menolak  pernyataan  itu,   ia   sudah   cepat-cepat

menyeberangi  padang  pasir,  tetapi  airnya terserap: angin

bisa terbang, dan oleh karena itulah  ia  bisa  menyeberangi

padang pasir.

“Dengan  menyeberang  seperti  yang kulakukan itu jelas, kau

tak  akan  berhasil.  Kau  hanya  akan  lenyap   atau   jadi

paya-paya.   Kau   harus   mempersilahkan   angin  membawamu

menyeberangi padang pasir, ketempat tujuan.”

Tetapi bagaimana caranya? “Dengan membiarkan dirimu terserap

angin.”

Gagasan  itu  tidak  bisa  diterima Si Sungai. Bagaimanapun,

sebelumnya ia sama sekali tidak pernah  terserap.  Ia  tidak

mau kehilangan dirinya. Dan kalau dirinya itu lenyap, apakah

bisa dipastikan akan didapatnya kembali?

“Angin,” kata Si Pasir, “menjalankan tugas semacam  itu.  Ia

membawa  air,  membawanya  terbang menyeberang padang pasir,

dan menjatuhkannya lagi. Jatuh ke bumi  sebagai  hujan,  air

pun menjelma sungai.”

“Bagaimana aku bisa yakin bahwa itu benar?”

“Memang  benar,  dan kalau kau tak mempercayainya, kau hanya

akan  menjadi  paya-paya;  dan  menjadi   paya-paya   itupun

memerlukan   waktu   bertahun-tahun   berpuluh   tahun.  Dan

paya-paya itu jelas tak sama dengan sungai, bukan?”

“Tapi, tak dapatkah aku tetap  berupa  sungai,  sama  dengan

keadaanku kini?”

“Apapun  juga yang terjadi, kau tidak akan bisa tetap berupa

dirimu  kini,”  bisik  suara  itu.  “Bagian  intimu  terbawa

terbang, dan membentuk sungai lagi nanti. Kau disebut sungai

juga seperti kini, sebab kau tak  tahu  bagian  dirimu  yang

mana inti itu.”

Mendengar  hal  itu,  dalam  pikiran  Si Sungai mulai muncul

gema. Samar-samar, ia ingat akan keadaan  ketika  ia  –atau

bagian   dirinya? –berada   dalam  pelukan  angin. Ia  juga

ingat– benar demikiankah? bahwa  hal  itulah yang  nyatanya

terjadi, bukan hal yang harus terjadi.

Dan  sungai  itu  pun  membubungkan  uapnya ke tangan-tangan

angin yang terbuka lebar, dan yang kemudian  dengan  tangkas

mengangkatnya   dan   menerbangkannya,   lalu  membiarkannya

merintik lembut segera  setelah  mencapai  atap gunung –nun

disana yang tak terkira jauhnya. Dan karena pernah meragukan

kebenarannya,  sungai  itu  ini  bisa  mengingat-ingat   dan

mencatat  lebih  tandas  pengalamannya secara terperinci. Ia

merenungkannya,  “Ya,  kini   aku   mengenal   diriku   yang

sebenarnya.”

Sungai  itu  telah  mendapat  pelajaran.  Namun  Sang  Pasir

berbisik, “Kami tahu sebab  kami  menyaksikannya  hari  demi

hari; dan karena kami, pasir ini, terbentang mulai dari tepi

pasir sampai ke gunung.”

Dan itulah sebabnya  mengapa  dikatakan  bahwa  cara  Sungai

Kehidupan melanjutkan perjalanannya tertulis di atas Pasir.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s